Kamis, 16 Juni 2016

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) Budidaya Kubis



I.          Tujuan :
Mendapatkan kubis yang baik dan siap dipasarkan.

II.        Ruang lingkup :
a.         Penyediaan bibit.
b.         Penyiapan lahan.
c.         Penanaman.
d.         Pengairan.
e.         Penyiangan gulma.
f.          Pemupukkan.
g.         Pengendalian hama dan penyakit
h.         Panen.
i.          Sortasi dan pengkelasan.
j.          Pengemasan.
k.         Penyimpanan.

III.       Definisi :
            Tidak ada.

IV.       Acuan :
Buku Petunjuk Dinas Pertanian.

V.        Penanggung jawab :
Petani dan Petugas Penyuluh Lapang

VI.       Langkah-langkah :
a.         Penyediaan bibit :
Penyemaian benih :
1)         Bersihkan gulma liar dari lahan persemaian beserta akar-akarnya.
2)         Cangkul tanah sedalam 30-40 cm, tanah bagian bawah di atas tanah bagian atas. Biarkan tanah selama 3-4 hari supaya terkena sinar matahari langsung.
3)         Buat petakan persemaian berukuran 3 m x 4 m dan tinggi 30 cm. Biarkan tanah selama 3-4 hari supaya tanah terkena sinar matahari langsung sebelum penyemaian.
4)         Berikan kompos halus dan pasir lalu tanah kompos dan pasir dicampur sampai rata.
5)         Beri naungan daun pisang atau daun kelapa supaya bibit tidak terkena sinar matahari langsung atau air hujan. Tinggi naungan di bagian barat 1,25 m dan di bagian timur 2 m sehingga sinar matahari pagi bisa masuk.
6)         Alirkan air kedalam parit di sekeliling petakan sampai permukaan atas petakkan persemaian basah.
7)         Keluarkan air dari petakkan setelah cukup basah lalu tebarkan benih kubis secara merata. Setelah benih ditabur merata kemudian ditutup dengan tanah setebal 1 cm. Siram persemaian setiap pagi dan sore hari dengan gembor halus atau alirkan air dalam parit yang mengelilingi petakan.
8)         Lakukan penyiangan bila dipetakkan persemaian telah banyak tumbuh gulma.
9)         Cabut segera bibit yang terserang penyakit seperti busuk pangkal batang dan persemaian disemprot dengan fungisida Dithane M45.

b.         Penyiapan Lahan :
1)      Cangkul atau bajak lahan sedalam 30-40 cm hingga gembur. Biarkan tanah olahan selama 3-4 hari supaya terkena sinar matahari langsung.
2)      Buat bedengan-bedengan berukuran selebar 180-200 cm, panjang 8-10 cm atau lebih sesuai keadaan dan tinggi 15 cm. Jarak antar bedengan 40 cm. Di lahan miring bedengan dibuat tegak lurus sesuai dengan kemiringan tanah untuk mengurangi erosi. Di tanah datar arah bedengan timur barat supaya tanaman mendapat sinar matahari yang cukup.
3)      Taburkan pupuk kandang di atas bedengan dan tutup dengan lapisan tanah setebal 10 cm.
4)      Taburkan kapur pertanian (dolomit) dengan dosis 2-4 ton per ha pada bedengan untuk mengendalikan penyakit akar gada.
5)      Alirkan air ke dalam parit-parit. Air tersebut dibiarkan berada pada lahan selama kira-kira 3 jam dan dibiarkan satu malam, lahan sudah siap ditanami.

c.         Penanaman
1)         Lakukan pemindahan tanam bibit kubis dari persemaian saat bibit berumur 3-4 minggu.
2)         Tentukan jarak tanam 60 cm x 60 cm dan buat ajir di titik-titik lubang tersebut (pola segitiga sama kaki).
3)         Buat lubang di tempat ajir dipancangkan : garis tengah 20-25 cm dan dalamnya 10-15 cm.
4)         Berikan 5 gr TSP dan 5 gr KCL pada tiap-tiap lubang sebagai pupuk dasar dengan cara ditugal pada lubang tersebut.
5)         Ambil bibit persemaian secara hati-hati supaya akar serabut bibit tidak rusak.
6)         Tanam bibit sedalam leher akar (akar serabut tersebar ke segala penjuru sedang akar tunggang dimasukkan tegak lurus pada lubang tanam). Waktu tanam sebaiknya sore hari supaya bibit tidak layu.
7)         Berikan tanah halus sedikit demi sedikit lubang tanam lalu tekan tanah di sekitarnya pelan-pelan dengan dua jari. Supaya bibit berdiri tegak, usahakan bibit berada diantara dua jari sewaktu penekanan tanah.
8)         Buat naungan bibit di lahan tanam dari pelepah pisang atau dedaunan lain supaya tanaman tidak layu pada saat awal pertumbuhan (0-15 HST).

d.         Pengairan
1)         Lakukan penyiraman tanaman setiap sore hari pada saat awal pertumbuhan tanaman (0-15 HST) dengan gembur halus.
2)         Lakukan penyiraman tanaman 1 minggu sekali (tergantung keadaan tanah) pada saat fase pembentukan daun (15-35 HST).

e.         Penyiangan Gulma
1)         Lakukan penyiangan gulma saat tanaman berumur 34 HST dengan kored atau dicabut dengan tangan.
2)         Gemburkan tanah bila telah padat saat penyiangan gulma secara hati-hati agar perakaran tanaman tidak rusak.

f.          Pemupukan
1)         Berikan pupuk susulan pertama pada saat tanaman berumur 15 hari berupa pupuk Urea sebanyak 1 gr/tanaman menggunakan tugal dengan jarak 5 cm dari tanaman.
2)         Berikan pupuk susulan kedua pada saat tanaman berumur 35 hari (sehari setelah penyiangan gulma) berupa pupuk urea sebanyak 5 gr/tanaman dengan cara ditugal.

g.         Pengendalian Hama dan Penyakit
1)         Ulat tritip
Gejala : Terdapat noda-noda putih pada daun dan apabila kulit kering, noda-noda tersebut jadi berlubang.
Penyebab : Ulat daun (Plutella xylostella F.)
Pengendalian :
a)         Pemanfaatan musuh alami berupa parasitoid Diadegma europhaga
b)         Tumpangsari antara tomat dengan kubis atau menolak ngengat betina meletakkan telur pada tanaman kubis.
c)         Penanaman perangkap dengan sawi jabung.
d)         Semprotkan insektisida Fenvalerat 5EC atau Sipermetrin 5 EC sesuai petunjuk.

2)         Ulat tanah
Gejala : Ulat ini pada siang hari berlindung didalam tanah, dan apabila malam hari ulat keluar mencari makan. Bila menjumpai tunas atau tanaman kubis muda ulat ini akan memotong batangnya.
Penyebab : Ulat tanah (Agrotis ipsilon)
Pengendalian :
a)         Pemanfaatan musuh alami hama ini (Apantales sp., T. Braueri, C. Varia dan Metarrhizium sp.)
b)         Penyemprotan tanaman dengan insektisida Diazinon 60 EC, Tamaron 500 EC dan lain-lain sesuai peunjuk.

3)         Ulat krop
Gejala : Hama ini memakan daun kubis muda pada malam hari sehingga tanaman gundul dan mutu kubis menurun
Penyebab : Ulat Crocidolomia binotalis Zell
Pengendalian : Penyemprotan insektisida mikroba B. Thuringensis, Fenvalerat 5 EC, sipermetrin 5 EC seperti pada label, bila populasi hama telah mencapai ambang ekonomi.
4)         Busuk hitam
Gejala : Bagian tepi daun kubis terdapat bercak yang menyerupai huruf V berwarna kuning. Apabila serangan berat menyebabkan warna daun seluruhnya menjadi kuning dan akhirnya rontok. Penyakit ini menyebabkan busuk pada kubis dan warna yang terserang menjadi hitam atau coklat.
Penyebab : Bakteri Xanthomonas campestris
Pengendalian :
a)         Gunakan bibit yang bebas penyakit
b)         Rendam biji dalam air panas 500C selama 15-30 menit sebelum ditanam
c)         Bersihkan lahan dari gulma
d)         Rotasi tanaman selama 3 tahun dengan tanaman bukan sefamili

5)         Busuk lunak
Gejala : Tanaman menjadi lunak, berlendir, dan berbau busuk. Batang atau daun tiba-tiba membusuk dengan bau yang khas. Infeksi bakteri ini pada umumnya terjadi melalui luka pada batang atau daun, atau melalui akar yang terluka secara mekanis. Infeksi pasca panen terjadi karena luka oleh cara panen, penanganan, dan pengepakan yang kurang baik.
Penyebab : Bakteri Erwinia carotovora
Pengendalian :
a)         Gunakan bibit yang bebas penyakit ini.
b)         Celupkan benih kedalam laruatan merkuri klorida (1-1000 ppm) selama 30 menit kemudian dibilas dengan air dingin dan dikeringkan. Atau rendam biji dalam air bersuhu 500C selama 18-20 menit kemudian dibilas dengan air dingin dan dikeringkan.
c)         Rotasi tanam dengan tanaman bukan sefamili paling sedikit selama 3 tahun.

6)         Batang Kawat
Gejala :
a)         Pucuk yang diserang penyakit ini biasanya mati sebelum muncul di permukaan tanah. Pada batang semai kelihatan bercak-bercak berair, keping menjadi layu dan akhirnya seluruh tanaman roboh lalu busuk.
b)         Pada tanaman kubis dewasa (tua) cendawan bisa menyebabkan penyakit busuk yang keras. Pada tulang daun tengah timbul bercak-bercak cekung memanjang warna coklat muda kemudian hitam, pada daun timbul bercak bulat. Daun yang telah terinfeksi menjadi lemah lunglai ke bawah, mengering, dan mudah rontok. Infeksi yang lebih berat menyebabkan kubis busuk. Suhu dan kelembaban yang tinggi akan mempercepat terjadinya infeksi, demikian juga pada waktu kubis disimpan dan diangkut.
c)         Penyebab : Cendawan Rhizoctonia solani dan Corticium vagum
Pengendalian :
a)         Desinfeksi bibit sebelum penyemaian
b)         Bakar semua tanaman yang terkena infeksi

7)         Busuk lunak air
Gejala : Terdapat bercak-bercak berair pada batang dan daun yang terletak di bagian bawah. Daun yang telah terinfeksi layu, berwarna kuning, dan rontok.
Daun luar kubis seringkali menjadi busuk dan berlendir, dan dalam beberapa hari tanaman menjadi busuk. Udara yang lembab dapat mempercepat timbulnya penyakit. Luka atau lecet  merupakan tempat masuknya penyakit.
Penyebab : Cendawan Sclerotinia sclerotiorum
Pengendalian :
a)         Gunakan benih yang sehat
b)         Semprot dengan fungisida pentha-chloronitro-benzena
c)         Lakukan rotasi tanaman

8)         Kaki hitam
Gejala : Terdapat bercak yang tidak beratur dengan warna keabu-abuan dengan tepi ungu sampai hitam. Tampak berkas pembuluh jadi berwarna hitam. Musim kemarau dapat mencegah tersebarnya penyakit ini.
Penyebab : Cendawan Phoma lingam
Pengendalian :
a)         Tanamlah benih bebas penyakit yang telah dicuci dengan air hangat.
b)         Simpanlah benih sekurang-kurangnya satu tahun hingga dapat memperkecil timbulnya penyakit.
c)         Semprot tanaman dengan senyawa tembaga (cooper oxychlorida) atau dengan senyawa mercury organik

9)         Bercak hitam
Gejala :
a)         Timbul bercak coklat-hitam di keping lembaga dan hypocotylnya. Serangan pada batang sering menyebabkan kematian tanaman.
b)         Tampak bercak-bercak bulat dengan warna coklat sampai hitam. Daun yang terkena infeksi biasanya akan mati dan kering, hingga daun menjadi berlubang-lubang. Dalam penyimpanan, pada daun sebelah luar akan kelihatan bercak-bercak hitam kemudian menyebabkan busuknya seluruh daun sebelah luar.

c)         Penyebab : Cendawan Alternaria brassicicola dan Alternaria brassicae.

Pengendalian :
(1)        Gunakan benih yang sehat dan rendam benih dalam air panas bersuhu 550C selama 15-30 menit.
(2)        Jagalah kebersihan pada waktu penyemaian dan penanaman kubis. Usahakan pada waktu transportasi dan penyimpanan kubis pada suhu rendah.
(3)        Semprot tanaman setiap 10 atau 14 hari sekali dengan Zineb, Ziram dan Thiuram.

h.         Panen
Kubis cresist crown telah dapat dipanen sekitar 75-80 hari setelah tanam (HST). Namun pemanenan varietas kubis ini dapat ditunda hingga 3-4 minggu tanpa penurunan mutu. Indeks panen yang lazim digunakan dalam pemanenan kubis adalah berdasarkan kepadatan dan kekerasan kubis. Selain itu warna kubis juga dapat digunakan sebagai indeks tambahan. Warna kubis akan berubah menjadi hijau muda bila tingkat perkembangan kubis telah maksimal.

Cara panen kubis sebagai berikut :
1)         Hentikan penyemprotan pestisida 14 hari sebelum panen.
2)         Potong tangkai kubis dan sisakan tangkainya sekitar 3 cm.
3)         Sertakan dua helai daun untuk melindungi kubis.
4)         Pakailah pisau yang tajam dan bersih untuk memetik kubis
5)         Pisau yang telah memotong kubis sakit jangan digunakan untuk memotong kubis yang sehat.
6)         Jangan lemparkan kubis ke tempat pengumpulan, karena bisa menyebabkan luka atau memar.
7)         Setelah dipanen, kubis segera diangkut ke rumah pengemasan. Di tempat ini kubis diangin-anginkan di atas rak bambu atau kayu dua tingkat atau lebih. Kubis jangan disimpan dalam karung tertutup atau ditumpuk sampai tinggi. Panas yang timbul dalam tumpukan dapat mengakibatkan pembusukan.
8)         Sambil diangin-anginkan pangkal bawah setiap kubis dipotong sedikit dan beberapa lembar daun lapisan luar dibuang. Setelah kubis tidak “berkeringat“ lagi pada bagian pangkal bawah kubis (bekas potongan batang) dioles dengan kapur tohor sampai cukup tebal untuk mencegah bakteri pembusuk. Selanjutnya kubis diangin-anginkan kembali diatas rak.

i.                    Sortasi dan Pengkelasan
1)         Kelompokan yang seragam bentuk, ukuran dan kepadatannya.
2)         Pisahkan yang warna daun luarnya hijau dengan kubis berwarna kuning.
3)         Pisahkan krop yang kotor dari yang bersih. Kadar kotoran maximal 2,5%.
4)         Pisahkan yang cacat dari yang utuh. Batas toleransi kubis cacat maksimal 5%.


j.          Pengemasan
1)         Plastik mengkerut
Untuk mengurangi resiko kehilangan air, kubis dapat dikemas dengan plastik mengkerut yang kedap udara. Sebelum pengemasan sebaiknya daun yang sudah mengering dan tidak kompak lagi dibuang. Setelah dibungkus dapat disimpan di bagian crisper lemari es. Tanda-tanda kubis yang rusak saat penyimpanan adalah busuk lunak atas bercak-bercak hitam karena adanya jamur atau bakteri.

2)         Jaring plastik
Kubis ekspor ke Malaysia dikemas dengan kertas koran lalu dimasukan kedalam jaring plastik seberat 20 kg/jaring

k.         Penyimpanan
Kubis sebaiknya tidak disimpan di tempat yang kelembabannya terlalu rendah untuk mencegah terjadinya pelayuan. Karena itu kubis sebaiknya disimpan pada ruangan bersuhu nol derajat clcius (RH 90-95%). Pada suhu ini umur simpan bisa mencapai 6 minggu. (Ahmad Hidayat, PMHP Ahli Madya Badan Ketahanan Pangan).

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL (SPO) Budidaya Bawang Merah



I.          Tujuan :
Mendapatkan bawang merah yang baik dan siap dipasarkan.

II.        Ruang lingkup :
a.         Penyediaan bibit.
b.         Penyiapan lahan.
c.         Penanaman.
d.         Pengairan.
e.         Penyiangan gulma.
f.          Pemupukan.
g.         Pengendalian hama dan penyakit.
h.         Panen.
i.          Pengeringan.
j.          Sortasi dan pengkelasan umbi.
k.         Penyimpanan umbi.
l.          Pengemasan umbi.

III.       Definisi :
            Tidak ada.

IV.       Acuan :
Buku Petunjuk Dinas Pertanian.

V.        Penanggung jawab :
Petani dan Petugas Penyuluh Lapang.

VI.       Langkah-langkah :

a.         Penyediaan bibit :
Persyaratan umbi :
1)         Umbi telah disimpan 2-3 dari panen. Bibit yang disimpan lebih dari 3 bulan presentase tumbuhnya rendah.
2)         Ukuran bibit 3-4 gr/umbi.
3)         Umbi di pilih yang bernas/padat (tidak keropos), kulit umbi mengkilat dan tidak luka.
4)         Berasal dari tanaman yang sehat dan sudah berumur 70-90 hari setelah tanam (hst).
5)         Umbi sehat (tidak terserang hama dan penyakit).
6)         Jika dipotong melintang akan terlihat tunas yang berwarna hijau (panjangnya separuh panjang umbi).
7)         Lakukan pemisahan siung menjelang pemanenan.

b.         Penyiapan Lahan
1)         Tanah ringan :
a)         Bajak lahan dua kali hingga tanah gembur berstruktur remah. Pada pengolahan tanah kedua, campurkan pupuk kandang matang sebanyak 10-20 ton per hektar.
b)         Buat parit keliling dan parit pembatas antar bedengan selebar 30-40 cm.
c)         Buat bedengan setinggi 15-30 cm, lebar 1-1,2 m dan panjangnya sesuai kebutuhan.

2)         Tanah berat atau tanah sawah :
a)         Buat parit keliling untuk pembuangan air dan parit pembatas atau bedengan selebar 30-40 cm. Biarkan tanah selama 7-14 hari.
b)         Olah lahan dengan kedalaman 30 cm dan biarkan selama 7-14 hari.
c)         Berikan pupuk kandang (10-20 ton per hektar) di atas bedengan saat pengolahan tanah ringan sekaligus mencampur pupuk kandang.
d)         Ratakan permukaan bedengan dan siram secukupnya hingga lahan siap tanam.
e)         Berikan kapur pertanian sebanyak 1,5 ton jika pH tanah <5,5 (tanah ringan dan tanah berat) yang diaduk secara merata diatas bedengan.

c.         Penanaman :
1)         Potong pada bagian ujung umbi sebesar 1/8-1/3 bagian 1 hari sebelum tanam.
2)         Tentukan jarak tanam 18 cm x 18 cm.
3)         Buat lubang tanam dengan tugal atau alat lain setinggi ukuran umbi bibit.
4)         Pegang umbi bibit dengan posisi bagian yang dipotong berada diatas, lalu masukan bibit kedalam lubang tanam dan agak ditekan dengan jari agar umbi merekat pada tanah. Posisi terakhir umbi sejajar di atas permukaan tanah.Tutup bedengan dengan mulsa atau ilalang kering dan siram secukupnya.
5)         Lakukan penanaman pada awal musim kemarau atau akhir musim hujan. Penanaman sebaiknya pada saat kondisi cuaca cerah.

d.         Pengairan :
1)         Siram tanaman pada pagi atau sore hari saat tanaman berumur 0-7 hari.
2)         Siram tanaman 2 hari sekali hingga tanaman berumur 42 hari.
3)         Siram tanaman 2 kali sehari saat tanaman berumur + 60 hari (selama pembentukan umbi).
4)         Hentikan penyiraman tanaman saat umbi mencapai ukuran maksimal (tanaman mulai menunjukan tanda-tanda perubahan warna daun).
5)         Pemberian air dapat dilakukan dengan perembesan air melalui parit-parit atau melalui penyiraman langsung pada bedengan .

e.         Penyiangan gulma :
1)         Lakukan penyiangan pertama saat pertumbuhan daun bawang mulai tampak yakni pada umur 14-21 HST.
2)         Lakukan penyiangan gulma kedua saat tanaman berumur 28-35 HST. Penyiangan berikutnya tergantung pada kondisi lingkungan.
3)         Lakukan penggemburan tanah saat penyiangan gulma secara hati-hati agar akar tanaman tidak rusak. Gulma dapat dibersihkan dengan kored atau cangkul kecil atau dengan tangan.

f.          Pemupukan :
Per hektar tanaman bawang merah memerlukan 222-267 kg Urea, 312,5 kg TSP dan 200 kg KCL. Waktu dan cara pemberian pupuk sebagai berikut :
1)         Berikan 1/2 bagian Urea dan 1 bagian TSP dan KCL saat tanaman berumur 14-21 HST.
2)         Berikan pupuk Urea ½ dosis lagi saat tanaman berumur 28-35 HST (sisa pemupukan pertama).
3)         Masukan pupuk dalam lubanglarikan sedalam 3-5 cm dan jauhnya 10 cm dari tanaman bawang (Tergantung perkembangan tanaman), lalu tutup dengan tanah dan siram secukupnya supaya pupuk cepat larut. Kegiatan penyiangan gulma dan penggemburan tanah biasanya dilakukan secara bersamaan saat pemupukan untuk menghemat tenaga kerja.

g.         Pengendalian hama dan penyakit :
1)         Thrips :
Gejala : Daun berwarna kecoklatan, berbintik hitam atau putih mengkilap dan pucuk daun layu.
Penyebab : Serangga Thrips tabaci
Pengendalian :
a)         Rotasi tanam yang bukan tanaman inang (kentang, tembakau, cabai dan sebagainya).
b)         Pangkas bagian tanaman dan jaga kebersihan kebun.
c)         Semprotkan Bayrusil 250 EC dan Dicarzol 25 SP.

2)         Ulat grayak :
Gejala : Terdapat bercak putih transparan pada daun, karena daging daunnya dimakan ulat selanjutnya daunnya rusak ( sobek, terpotong atau berlubang ) dan layu
Penyebab : Ulat Spodoptera litura
Pengendalian :
a)         Pasang feremoid seks sebanyak 40 unit/ha sebagai perangkap ngengat jantan ulat bawang.
b)         Kumpulkan dan musnahkan telur dan larvanya atau dengan memotong dan memusnahkan daun yang berisi larva.
c)         Semprot tanaman dengan Azodrin 60 WSC dan Azodrin 15 SWC dengan konsentrasi 30-40 cc/10 lt air. Volume penyemprotan per hektar 400-600. Penyemprotan dilakukan dengan selang waktu 8-10 hari.



3)         Ulat pemotong :
Gejala : Pada pangkal batang terdapat gerekan luka dan bahkan tanaman sering rebah
Penyebab : Ulat Agrotis ipsilon
Pengendalian :
a)         Pemanfaatan musuh alami ulat seperti laba-laba dan tabuhan atau lebah.
b)         Semprotkan Antracol 70 WP atau Dursban 90 EC

4)         Bercak ungu
Gejala : Terdapat bercak-bercak sangat banyak pada daun dari arah datangnya angin dan mematikan tanaman secara serempak. Bercak-bercak berwarna putih kekuning-kuningan kemudian membesar dan daun menjadi patah. Bila umbi terserang sewaktu panen dan pascapanen warna umbi kuning kecoklatan dan jaringan yang sakit kering.
Penyebab : Cendawan Alternaria porri
Pengendalian :
a)         Lakukan penyiraman tanaman setelah turun hujan untuk mengurangi spora yang menempel pada daun
b)         Semprotkan Zincofol 68 WP dengan konsentrasi 2 gr/lt air. Volume semprot 400-1000 lt/ha. Penyemprotan dengan selang waktu 5-10 hari sejak tanaman berumur 7 hari.

5)         Antraknose :
Gejala : Pada daun terdapat bercak-bercak putih berukuran 1-2 mm, kemudian melebar menjadi putih kehijau-hijauan. Daun kemudian menjadi terkulai tepat pada bagian bercaknya.
Penyebab : Cendawan Colletotrichum gloeosporioides Penz
Pengendalian : Penyemprotan fungisida seperti Daconil 73 WP, Zincofol 68 WP, Antracol 70 WP, Polygram M Dithane M45, Delsene MX 200 atau Cupravit OB21. Penggunaan sprayer kipas “ flat nozzle “ dapat mengurangi larutan semprot sekitar 35 % - 60 % dibandingkan sprayer biasa.

6)         Penyakit busuk daun
Gejala : permukaaan daun atau batang berwarna violet seperti embun: 1-2 hari kemudian daun menguning dan akhirnya kering.
Penyebab : Cendawan Peronospora destructor
Pengendalian:
a)         Gunakan bibit yang baik dan sehat
b)         Semprotkan fungisida Daconil 75 WP atau Antracol 70 WP sewaktu dipembibitan
h.         Panen
Bawang merah sumenep telah dapat dipanen pada umur 69 hari setelah tanam (HST).
1)         Tanda-tandanya :
a)         Daun telah menguning 60-75 % dan tanaman cukup tua.
b)         Batang nampak lemah sehingga daun rebah.
c)         Umbi telah memadat, berisi dan bila umbi keluar dari tanah warnanya tampak cerah.

2)         W aktu dan cara panen sebagai berikut:
a)         Lakukan panen pada cuaca terang (cerah).
b)         Pegang rumpun bawang dengan tangan kiri lalu tusukan alat pengungkit agak miring dengan hati-hati kedalam tanah. Kemudian pengungkit ditekan kebawah sedang tangan kiri mencabut rumpun bawang dengan hati-hati.
c)         Letakkan umbi diatas bedengan hinggga agak kering dan batang tetap melindungi umbi agar tidak rusak oleh sinar matatahari langsung.

i.          Pengeringan :
1)         Gudang pengering bervortex :
Alat ini terdiri dari alat pembangkit vortex, gudang penyimpanan dan tempat penggantungan umbi. Spesifikasi dan cara pengeringan sebagai berikut :
2)         Pembangkit bervotex :
a)         Tinggi lempengan kisi-kisi 90 cm.
b)         Lebar lempengan kisi-kisi 10 cm (bentuknya melengkung).
c)         Diameter drum penyangga 60 cm.
d)         Tinggi drum penyangga 10 cm.
e)         Diameter bis beton 10 cm.

3)         Gudang penyimpanan
a)         Ukuran 6x4 m, tingi 3 m.
b)         Dinding dari triplek atau papan atau anyaman bambu atau tembok.
c)         Atap dari genteng atau asbes.
d)         Daya muat 2-3 ton umbi basah.
e)         Pembangkit vortex dipasang diatap bangunan. Untuk mengatasi masuknya air hujan atau embun kedalam gudang penyimpanan. Melalui lubang penyimpana vortex dibuat corong berselang keluar gudang.

4)         Alat penggantung :
a)         Terbuat dari bambu atau kayu sebanyak 7-10 tingkat.
b)         Jarak antar tingkat 25 cm.


5)         Cara pengeringan :
a)         Batang umbi diikat seberat 2 kg per ikatan umbi.
b)         Umbi basah digantung pada rak gantungan.
c)         Jarak antar ikatan umbi bawang 5 cm.
d)         Vortex dipasang tepat diatas gudang penyimpanan. Angin yang bergerak lurus akan menerpa ksi-kisi yang melengkung. Akibatnya laju angin akan dipercepat 8 kali lipat, sehingga timbul angin puting beliung kecil, yang menyedot udara lembab dari dalam gudang. Sedang timbunan karbondioksida, air dan energi semakin kecil. Tapi karena pengaruh kelembaban udara di luar, maka kelembaban dalam gudang tidak stabil. Ketidakstabilan kelembaban ini dapat mencegah timbulnya jamur dan penyakit pada umbi. Lama pengeringan 42 hari.

j.          Sortasi dan pengkelasan umbi :
Kegiatan ini sebaiknya berpatokan pada syarat mutu yang direncanakan. Cara sortasi dan pengkelasan umbi bawang merah sebagai berikut :
1)         Pisahkan umbi yang tua dan keras dari umbi yang cukup tua dan cukup keras.
2)         Pisahkan umbi menurut diameter, mutu I diameternya minimal 1,7 cm.
3)         Pisahkan umbi yang rusak dari umbi yang baik. Batas toleransi kerusakan mutu I maksimum 5 %.
4)         Pisahkan umbi yang busuk dari umbi yang baik. Batas toleransi umbi busuk pada mutu I maksimum 1 %.
5)         Bersihkan umbi dari segala kotoran seperti tanah, kulit umbi dan sebagainya hingga bersih. Batas toleransi kotoran pada mutu I 0 %.

k.         Penyimpanan Umbi
1)         Syarat-syarat penyimpanan umbi bawang :
a)         Ventilasi cukup sehingga pertukaran udara ditempat penyimpanan lancar.
b)         Ruang penyimpanan harus bersih sehingga tidak mengundang serangan hama penyakit.
c)         Kelembaban udara dalam ruang penyimpanan sekitar 70 % sehingga tidak menyebabkan pembusukan umbi.
d)         Suhu udara di ruang penyimpanan + 30 0C.

2)         Salah satu upaya untuk mempertahankan mutu bawang merah selama masa simpan adalah menyimpan dengan didalam ruang pendingin, dimana suhu dan kelembabannya dapat dikendalikan. Penyimpanan umbi bawang merah kering pada auhu 0 0C dengan kelembaban 65-75 % memberi umur simpan 1-8 bulan dengan kadar air 87,5 %. Umbi bawang yang tidak dikeringkan dapat disimpan selama 3-4 minggu pada suhu 0 0C dengan kelembaban 95-100 %.

l.          Pengemasan umbi
1)         Pengangkutan jarak dekat :
Menggunakan karung jala dengan kapasitas 90-100 kg. Kemasan ini dinilai praktis dalam bongkar muat, tapi cenderung menimbulkan kerusakan mekanis karena tidak mempunyai kekuatan menahan tekanan dari luar.

2)         Ekspor
Bawang merah dikemas dalam bentuk umbi yang telah dipotong atau masih ada bagian daunnya dan sudah kering simpan. Pengemasan dalam keranjang atau bahan lain dengan berat netto maksimum 80 kg dan ditutup dengan anyaman bambu atau bahan lain kemudian diikat dengan tali rotan atau bahan lain. Isi kemasan tidak melebihi permukaan. Bagian luar kemasan diberi label yang bertuliskan antara lain : nama barang, jenis mutu, nama/kode perusahaan/eksportir, berat bersih, hasil indonesia dan negara tujuan, tanggal produksi.